0263-2914301 humasbnnkcjr@gmail.com

Synthetic phenethylamine merupakan senyawa yang memiliki struktur utama phenyl dan amine atau yang lebih dahulu dikenal adalah golongan ATS (amphetamine type stimulant). Contoh zat ATS yang lebih dahulu berkembang adalah golongan sabu seperti amphetamine dan methamphetamine dan golongan ekstasi seperti MDMA, MDA, MDEA dan lain-lain. Zat ini dalam perkembangannya ternyata banyak menghasilkan variasi produk lainnya dengan tujuan memiliki efek yang sama yaitu stimulan dan halusinogen diantaranya adalah seri 2C seperti 2-CB, 2-CC, kemudian D-seri seperti DOC, DOB dan lain-lain seperti PMMA dan seri NBOMe.

Struktur Utama Phenethylamine

Perkembangan synthetic phenethylamine di dunia pertama kali ketika seorang pharmacologist yang bernama Alexander Theodore “Sasha” Shulgin mulai memperkenalkan MDMA pada klinik terapi psikologis dan melakukan sintesa metode baru untuk MDMA. MDMA sendiri sebenarnya sudah lama disintesa pada tahun 1912, namun belum pernah dilakukan uji coba pada manusia. Sashalah yang pertama kali memeperkenalkan MDMA di klinik-klinik terapi psikologis. Kemudian synthetic phenethylamine ini mulai pesat perkembangannya ketika Sasha melakukan riset tentang phenethylamines dan mempublikasikan bukunya yang bernama PIHKAL (phenethylamine, i have known and i love it) pada tahun 1991, termasuk di dalamnya adalah senyawa 2-C series dan DO-family.

Perkembangan selanjutnya adalah riset phenethylamine mengenai kelompok halusinogen yaitu 2-CB dan DOB yang memiliki kemiripan efek dengan golongan mescaline yaitu senyawa benzodifuranyl yang dikenal dengan FLY (tetrahydrobenzodifuranyl) dan dragonfly (benzodifuranyl aminoalkanes).

Kemudian yang berkembang selanjutnya dalah PMMA yang merupakan perkembangan dari PMA dalam bentuk tablet ekstasi. Kasus PMMA di Indonesia pertama kali trejadi di tahun 2012 yaitu kiriman tablet ekstasi yang diselundupkan dalam container melalui pelabuhan Tanjung Priok yang merupakan kasus NPS dengan jumlah sitaan paling besar yaitu 1,3 juta butir tablet ekstasi. Tablet ekstasi tersebut memiliki dua kandungan utama yaitu MDMA dan PMMA sehingga penggunaan lebih dari satu senyawa phenethylamine berpotensi mengakibatkan efek ganda halusinogen dan toksisitas yang membahayakan bagi kesehatan tubuh.

Kasus phenethylamine lainnya di Indonesia adalah temuan sampel berbentuk kertas perangko yang bergambar warna-warni pada tahun 2013. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa kandungan kertas tersebut mengandung senyawa NBOMe- series. Selanjutnya adalah temuan kertas yang mengandung DOC yang sering disebut di media sebagai CC4. Penyalahgunaan kertas tersebut berpotensi membahayakan karena dosisnya yang cukup kecil namun sudah mengakibatkan gejala toksisitas.

Tablet ekstasi mengandung PMMA

Tablet ekstasi mengandung 2-CB