0263-2914301 humasbnnkcjr@gmail.com

Ketamine awalnya bernama CI-581 yang disintesis untuk menggantikan PCP. Ketamin mulai dikenal ketika disintesis pada tahun 1962 oleh ilmuwan Amerika Calvin Stevens di Parke Davis Laboratories. Peredaran ketamin di dunia berkaitan erat dengan senyawa phencyclidine yang dikontrol secara internasional (juga dikenal sebagai PCP atau “angel dust”) yang tercantum dalam Schedule II UN Convention 1971. Phencyclidine diselidiki sebagai anastesi intravena pada tahun 1950 namun kemudian ditarik karena efek halusinogen, delusi dan delirium bahkan psikosis yang tidak diinginkan. Setelah penarikan phencyclidine, ketamine disintesis sebagai anastesi pada tahun 1962, yang dipatenkan pada tahun 1963 di Belgia dan tiga tahun kemudian di Amerika Serikat. Pada awal 1970-an, ketamine dipasarkan sebagai alternatif medis untuk phencyclidine.

Penyalahgunaan penggunaan ketamin sebagai zat psikoaktif seperti kembali ke tahun 1980-an dan 1990-an. Ketamine dan phencyclidine memiliki cara kerja yang serupa , yang mempengaruhi berbagai neurotransmitter pusat. Ketamin sering dijual sebagai ‘ ekstasi ‘ di pasar gelap ATS . Nama jalan untuk ketamine termasuk ‘ K ‘ , ‘ K khusus’ , ‘ kit kat ‘ , ‘ tac ‘ , ‘ tic ‘ , ‘ cat valium ‘ , ‘ cat transquilizer ‘ , ‘ vitamin K ‘ , ‘ ket ‘ , ‘super K ‘. Sediaan farmasi ketamin biasanya ditemukan dalam bentuk cair , tetapi ada juga dalam bentuk serbuk dan kapsul. Serbuk diperoleh dengan menguapkan larutan ketamin yang seringkali dihirup, dihisap dan ditelan.

Ketamine dapat merangsang sistem kardiovaskular, menghasilkan perubahan denyut jantung dan tekanan darah. Dengan demikian, takikardia adalah salah satu gejala yang paling umum yang diidentifikasi dalam pengguna untuk narkoba jenis rekreasi. Temuan neurotoksisitas pada hewan percobaan menunjukkan keprihatinan tentang konsumsi ketamin oleh pengguna narkoba jenis rekreasi. Efek lain yang dilaporkan termasuk kecemasan, perubahan persepsi, adanya penurunan fungsi motorik dan rhabdomyolysis.

Sejarah penggunaan ketamin pertama kali sebagai anestesi bagi hewan yang dipatenkan pada tahun 1963. Pada tahun 1964 pertama kali diujicobakan pada manusia dan ditemukan bahwa ada efek halusinogen meskipun sedikit dan jangka waktu yang relatif singkat. Namun penggunaanya lebih populer pada hewan dibandingkan manusia dengan adanya efek tersebut. Pada tahun 1965, ketamin disalahgunakan sebagai recreational drug sebagai senyawa yang memiliki efek psychedelic drug dan lebih tepatnya efek anestesi yang penyalahgunaannya mengakibatkan adanya perbedaan antara penglihatan dan pendengaran atau lebih tepatnya adalah ilusi dan kemudian menghasilkan keadaan parah yaitu munculnya gejala gangguan jiwa dan menyebabkan schizoprenia dan gangguan psikis.

Antara tahun 1987 dan 2000, terdapat laporan 12 kasus yang fatal di mana ketamin teridentifikasi, namun hanya tiga dari kasus tersebut melibatkan ketamin saja. Penggunaan ketamin kronis telah dilaporkan mengakibatkan disfungsi kognitif.

Serbuk ketamin tersebut nantinya akan digunakan untuk campuran dalam tablet ekstasi buatan pabrik tersebut.

Ketamine merupakan zat yang sudah lama berkembang di Indonesia. Sejak tahun 2005 ketamine sudah dijumpai dalam tablet-tablet ekstasi, serbuk dan kristal dan pada tahun 2005 juga berhasil diidentifikasi kiriman ketamin dari china dalam kontainer yang ternyata kriman tersebut mampu menjadi petunjuk adanya temuan pabrik sabu dan ekstasi di Cikande Tangerang. Pada saat itu Ketamine yang ditemukan adalah berupa serbuk sebanyak 290 Kg. Peredaran ketamin di Indonesia saat ini ditemukan sebagian besar dalam bentuk campuran pada tablet-tablet ekstasi yang beredar secara ilegal.